Suatu senja: Sebening Embun PDF Print E-mail
Tuesday, 12 August 2008
Entah sudah berapa lama diriku berada disini, angin dingin semilir meniup pipiku yang tirus dan berdebu, diatasku awan berarak perlahan, berwarna kelabu dengan semburat jinga diujung-ujungnya. Satu sebuah hari akan segera berakhir.


Disini berdiri
Entah sudah berapa kertas aku tulis dengan segala macam isi sebagai kompensasi rasa dihati, terkadang merah, terkadang hijau, kadang kala putih tetapi lebih banyak warna biru, membiru seperti biasanya warna dihatiku.

Senja sudah menjelang, matahari sudah mulai meredup, burung-burung kecil bersahutan, dan gemuruh kota dikejauhan mulai mereda, sedikit demi sedikit. Awan kelabu mulai bergerak kelabu kejingga, udara semakin dingin, tapi hembusan angin kering masih sesekali terasa.

Kesatu arah wajah ini dilepaskan, menatap tikungan jalan dikejauhan sana, dan tak lupa selalu do'a harap terus dibacakan, 'kapankah engkau datang ?'

Sebuah wajah diujung jalan
Lelah rasanya tubuh ini, lelah rasanya mata ini, lelah rasanya hati ini, berdiri dan menanti sepanjang hari, diterpa angin dan sinar matahari. Juga lelah rasanya jemari ini, yang terus bergerak menari diatas berlembar-lembar kertas hati.

Ada sesuatu muncul diujung jalan, yang semakin lama semakin menjelang, sebuah wajah yang aku kenal walau tak pernah bertemu, sebuah rasa yang aku kenal walau tak pernah tersentuh, sebuah harum yang aku kenal walau tak pernah tercium dan sebuah warna yang aku kenal walau tak pernah menorehkan pensil diatasnya.

Ia semakin mendekat, yang diiringi getaran disekujur tubuhku, yang diiringi aliran bening dipipi ini, yang diiringi kelunya lidah nan tak terucap dan rasa dingin yang semakin menghangat pada tubuh ini.

Sebening embun
Sinar perlahan meredup, mentari seakan enggan bersinar, diriku seakan melayang, dan dirimu semakin menjelang, dengan hembusan angin yang menerbitkan keharuman.

Aku lihat dari ketinggian, sesosok lelaki berpakain putih dengan tas penuh kertas berserakan, tergeletak ditepi jalan disenja hati, dipipinya ada aliran, dibibirnya ada senyuman. Dan sebuah wajah cantik mendekat, bersimpuh dan memegang tangannya, dimatanya ada sebuah sayang, dibibirnya bergetar senyuman, ditanganya berterbangan kupu-kupu dan keharumannya menumbuhkan bunga-bunga disekitarnya. Sesaat tubuhnya berguncang perlahan, bibirnya bergetar.

"Wahai Kekasihku, ... Aku telah datang", sambil memegang tangan sang lelaki, sesosok lelaki berpakain putih dengan tas penuh kertas berserakan, tergeletak ditepi jalan disenja hati, dipipinya ada aliran, dibibirnya ada senyuman.

"Kekasihku ..." aliran sebening embun menetes dari wajahnya, menetes jatuh kepipi sang lelaki, bersatu dengan aliran dipipinya. Ada sebuah senyuman bibirnya, yang mulai membiru, seperti warna dihatinya.

Wajahnya cantik sebening embun, dan aku menatapnya dari diketinggian. Andai aku bisa merasakan sentuhan jemarinya, pada jemariku dibawah sana .... Hari ini hadir pada suatu senja, dimana penantianku berakhir, tetapi aku tetap tak bisa melihatnya disisiku, melihatnya mengisi hatiku dengan lautan dimatanya, dengan senyumannya, dengan suaranya dan dengan keharuman rambutnya.

"Wahai Kekasihku, ... Aku datang, kita akan selalu bersama" ujarnya lirih , sambil memegang tangan sang lelaki, sesosok lelaki berpakain putih dengan tas penuh kertas berserakan, tergeletak ditepi jalan disenja hati, dipipinya ada aliran, dibibirnya ada senyuman.

Wajahnya cantik sebening embun, dan senja ini aku berangkat menghadapNYA

 

Bekasi, 22 July 2008 23:00

 


Comments (3) >> feed

binar said: _

 
smilies/wink.gif ayah bikinnya bagus bgt smilies/grin.gif
February 08, 2010 | url

binar said: _

 
bening ya smilies/cheesy.gif

February 08, 2010 | url

binar said: _

 
kerennnnnnn
February 08, 2010 | url
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley

busy
Last Updated ( Saturday, 06 February 2010 )
 
Next >

Free Joomla Templates By Joomlashack