| Yang tak terkatakan |
|
|
|
| Tuesday, 29 April 2008 | |
|
Malam ini kabut putih menaungi dedauan basah berembun, disela semilir angin dingin dan nyanyian serangga-seranga kecil diatas rumput. Bulan penuh memandangi bumi dibalik awan tipis, hujan baru saja berhenti sepuluh menit yang lalu. Mata ini memandangi langit yang masih menangis kecil, sambil sesekali membiarkan cahaya bulan menyeruak menerpaku. Coba engkau katakan kepadaku wahai rembulan, apa yang seharusnya aku perbuat dan apa yang seharusnya aku lakukan ? Bila malam semakin larut, bila kegelapan semakin menerkam, bila kesenyapan semakin mengigit, mata lautan semakin membayang, suara lirih semakin terdengar dan senyum segar semakin mewangi. Irama cengkerik dan katak semakin memecah kesunyian disuasana sehabis hujan ini, kucoba untuk memejamkan mata dan menajamkan telinga, disini, ditengah kebunku nan damai. Aluran tinggi dan rendah terus mengalun berulang, seperti layaknya sebuah lagu yang digubah oleh sang maestro. Gemuruh ombak bersahutan disini, semilir lembut angin menerpa dedaunan bambu disepanjang jalan, Satu dua kelelawar terbang diujung sana, diiringin suara burung malam yang tengah mencari sesuatu. Kesenyapan, dan kegelapan ini tak mampu mengusik bayang yang tengah berselancar diatas gemuruh ombak yang pecah ditepi pantai hatiku. Malam semakin larut, gelap semakin mengelap dan dingin yang semakin senyap, tapi gemuruh semakin menggelegar. Bila saja ada disini, sama-sama kita arungi malam membiru ini, yang semakin larut akan semakin penuh dengan suara dan cerita. Tentang rembulan, tentang dedaunan, tentang basahnya rerumputan, tentang cengkerik diwaktu malam .. tentang dan seribu tentang .. yang membuat mata enggan terpejam ...
Kapan lagi akan bertemu ? walau hanya sekilas senyum berlalu ?
Bekasi, 28 April 2008, 23.45 |
|
| Last Updated ( Tuesday, 12 August 2008 ) |
| < Prev |
|---|


