| Berwarna ungu, |
|
|
|
| Saturday, 01 March 2008 | |
|
Berwarna ungu, Aku masih disini, disisi sang elang, menemaninya kembali melayang dan hinggap disebatang dahan pada sebuah pohon yang gemerlap. Matanya masih tetap sama, pandanganya masih tetap sama, hatinya masih tetap sama.
Sayapnya masih juga sama, menetes mengenangin dahan yang dipijaknya, raut wajahnya juga masih sama, letih dan makin terlihat jelas garis-garis kerinduannya. Sang Elang terlalu polos, ia tak sanggup menyembunyikan apa yang ada dibalik bulu-bulu lebatnya, ia tak sanggup menahan getaran dari lubuk hatinya, hingga terkadang mengetarkan seluruh sendi tubuhnya.
Sang Hijau, Tak ada yang bisa dilakukannya selain sujud dan memohon kepada sang pencipta agar bisa terobati apa yang sedang terjadi pada dirinya, agar segera berhenti apa yang sedang menetes, agar tidak meluap apa yang terus mengalir dan agar tidak semakin gelap apa yang semakin temaram.
Ia coba dan terus mencoba untuk semakin tenggelam dilautan berwarna hijau muda, lautan dengan nuansa ketentraman dan ketenangang didalam jiwa. Didalamnya ia mencoba semakin mengenal dan semakin mengetahui tentang sang pencipta, bersimpuh didalam rumah sang pencipta dan memberitahu apa yang sedang bergetar didalam sanubarinya.
Ia memohon agar merubah getaran dahaga terhadap sang merpati agar dirubah menjadi getaran dahaga kepada sang pemimpin besar dan penciptanya, dirubah dan ditambah agar menjadi ribuan bahkan jutaan kali lebih dalam dari apa yang sekarang bergetar.
Hampir disetiap simpuhnya, satu buah mangkuk kembali bertambah, sebuah mangkuk yang akan mengisi lebarnya halaman belakang rumahnya, yang sebagian telah sedikit tumpah menjadi genangan danau, danau getaran dahaga.
Sang Jingga, Langit diatasnya semakin berwarna emas, mentari semakin enggan menemani kami berlama-lama disini, mentari segera beranjak menuju keperaduannya, sang elang bersiap-siap menanti datangnya sang ungu, seperti biasa, hampir disetiap gelapnya suasana.
Pepohonan mulai menundukan kepala, mereka merasakan juga bahwa ini sudah saatnya bagi mereka merentangkan semua batangnya, kemudian bersiap-siap memejamkan mata mereka, apakah sang ungu juga akan mendatangi mereka ?
Garis horizon semakin nyata terlihat, garis-garis awan menjadi berwarna putih dengan sisi keemasan dibaliknya, kepak-kepak sayap burung kecil bersahut-sahutan riang, tergopoh-gopoh membawa beberapa makanan untuk sikecil miliknya.
Ada sebuah dilema setiap kali jinga mengunjungi sang elang, ia akan sedikit menghirup pelepas getaran dahaganya, tetapi dilain sisi sang elang merasakan getaran itu semakin membesar dan membesar, sesuatu memang akan terasa sangat penting bila sudah tidak ada disisi, tetapi untuk sang elang, getaran dahaganya sudah terasa teramat besar sewaktu merpati ada disisinya, ..... dan sekarang getaran dahaga itu semakin membesar dan membesar.
Begitu besarnya rasa dahaga ini, lebih dari cukup untuk memberi tenaga untuk sang elang, untuk memutari dunia ini ribuan kali tanpa sedikitpun berhenti, hinggap ataupun berisitirahat, untuk mencari penawarnya, penawar getar dahaganya, yang hanya ada dibalik bulu-bulu putih sang merpati. Yang sekarang entah dimana ....
Sang Ungu, Ia telah datang ..... bercerita tentang sipenawar getar dahaga, sang merpati yang entah dimana, bercerita tentang sang merpati, tentang apa yang ingin sang elang ketahui, dan mungkin ... rasa dari sipenawar getar dahaga.
Ia berupa sebuah kabut tipis yang melingkupi diri sang elang, membuat sang elang mampu mengepakan sayap jiwanya pergi jauh secepat kilat, mengunjungi sang merpati, melewat pepohonan, gunung-gunung dan lautan maha luas.
Sang elang hinggap disebuah dahan, didalam jarak yang tidak terlalu jauh, sang elang melihat sipenawar getar dahaga, semangkuk penawar getar dahaga dibalik bulu-bulu putihnya, semangkuk penawar yang ingin sekali dimilikinya, semangkuk penawar yang hanya hanya bisa ditatap dengan pandangan nanar sang elang, ia mendesis lirih ‘merpati .. izinkan aku mereguk penawar itu, untuk sedikit melepas rasa lelah dan penatku.
Sang elang tak sanggup menahan getaran dahaganya, ia berteriak memanggil sang merpati, ia memanggil dengan sayapnya, ia memanggil dengan paruhnya, ia memanggil dengan matanya, ia memanggil dengan penciumanya, ia memanggil dengan cakarnya, ia memanggil dengan senyumnya, ia memanggil dengan getaran dahaganya.
Sang elang melihat sipenawar getar dahaga, semangkuk penawar getar dahaga dibalik bulu-bulu putihnya, semangkuk penawar yang ingin sekali dimilikinya, semangkuk penawar yang hanya hanya bisa ditatap dengan pandangan nanar sang elang, ia mendesis lirih ‘merpati .. izinkan aku mereguk penawar itu, untuk sedikit melepas rasa lelahdan penatku.
Sang Ungu tersenyum lirih, .. kawanku hanya itu yang sanggup aku berikan untukmu, panggilanmu akan aku sampaikan kepadanya secepatnya, sewaktu aku melingkupinya, dimalam yang gelap atau disaat ia beraktifitas, semoga sang merpati mampu menangkap pesanku ini darimu, untuknya.
Sang Ungu tersenyum lirih, melepas perlahan lingkupannya, meninggalkan sang elang sendiri, digelapnya malam, ia kemudian bergerak perlahan memasuki sang hijau, dengan membawa mangkuk yang keesokan harinya akan diletakan dibelakang rumahnya, dibelakang rumah hati kecilnya.
Awan berarak, Sang elang melihat suasana langit diatasnya, yang sedikit tertutup dedaunan pohon tempatnya hinggap, sebentar lagi ia akan terbang kepucuknya, agar tidak lagi tertutup pandangannya.
Awan-awan berwarna ungu terus berarak diatas kepalanya, tersenyum dan memberi salam kepadanya ‘Assalamualaikum sang elang’ ... ‘Walaikum salam awan berarak, kawanku’ ... ‘Apa kabarmu sang elang ?’ .. ‘ kawanku, seperti yang engkau lihat saat ini’ ... ‘Mohon terus bersabar kawanku ... aku akan terus menemanimu, kemanapun engkau pergi, seperi sang angin yang memberikan pundaknya kepadamu, agar engkau bisa terus melayang’
‘Wahai awan ungu berarak, apa yang akan engkau berikan dan dengan cara apa engkau menemaniku, kawanku ?’ ...’Aku akan berarak didepanmu kawanku, dimana aku berada, kepakan sayapmu menuju tempat teduh dibawah naunganku, aku dan sang angin akan menunjukan tempat sang merpati’
‘Sehingga engkau akan segera mendapatkan penawar getaran dahagamu’ ....
‘Terima kasih kawanku, engkau sungguh mempunyai hati yang pemurah’ .. Sang elang kemudian bergerak perlahan memasuki sang hijau, dengan membawa mangkuk yang keesokan harinya akan diletakan dibelakang rumahnya, dibelakang rumah hati kecilnya.
.... |
| < Prev | Next > |
|---|


