Bidadari bersayap kupu-kupu: Istana tuanku PDF Print E-mail
Friday, 15 February 2008

Kegaduhan masih terjadi diluar sana, kilat dan cahaya masih terus bersahutan dengan diiringi gemuruh silih berganti. Sesekali teriakan kecil terdengar, terkadang terdengar seperti sebuah rasa sakit yang menghantam. Pertempuran sepertinya belum juga berakhir.

Satu putih diantara ribuan hitam

Sebuah titik putih  meloncat kesana kemari, yang terus menerus diikuti dan dikelilingi titik-titik hitam yang sepertinya begerak lebih cepat. Kilatan dan hantaman yang diiringi pekik lemah kecil sepertinya tidka juga berhenti, pertempuran itu sudah berlangsung hampir lebih dari 700 hari.

Sebuah batang bunga yang hampir terkulai masih terlihat dipelukan sang putih yang berkelebatan dan berloncatran kesana kemari, sesekali matanya terus memperhatikan bunga itu, dan sesekali pula tangannya mencoba memperbaiki letak bunga itu.

Sang putih makin terlihat makin tak berdaya, terlihat dari gerakannya yang semakin melamban, dari jarak dekat terlihat lelehan merah membasahi selendangnya, dan rambut wanginya makin terlihat kurang terurus. Wajahnya tirus walau masih memancarkan kecantikan yang segar, bibirnya terkadang terlihat gemetar sepertii menahan sesuatu. Matanya terlihat semakin redup, airmata mengalir disudut matanya, sesekali matanya seperti sebuah lautan, dengan bening diatasnya, yang terus bergerak-gerak getir, sesekali tangannya mencoba mengusap airmata itu.

Ia adalah bidadari bersayap kupu-kupu, sayapnya semakin koyak terhempas kesana kemari, ia adalah bidadari yang tercantik dan terkuat dijenisnya, ia tinggal sendiri, seluruh rekannya sudah meninggalkan dia, mereka semua berjejer rapi dipinggir arena pertempuran yang sepertinya belum berkesudahan itu.

Ia adalah yang tercantik, ia adalah yang terkuat, ditangannya ada sebuah bunga yang hampir layu.

 

Dalam istana tuanku

Sang bidadari bersayap kupu-kupu terhempas, bunganya terjatuh, seiring dengan jatuhnya tubuh berselimut selendang putih itu. Ia terhempas dengan sangat keras, seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit, sambil terus berusaha mengambil kembali bunga yang terjatuh tak jauh darinya, yang kemudian ia peluk erat-erat, sambil dimatanya terus mengalir alir mata.

 'Wahai sang bidadari bersayap kupu-kupu' ujar sesosok hitam dengan kepakan saya hitam elang yang berdiri tak jauh darinya. Dengan perlahan, dengan airmata masih mengalir dipipi dan bibit yang tergigit, sang bidadari menoleh dari tempatnya terhempas, dengan tetap memegangi bunga itu, 'bunuhlah aku wahai sang ksatria elang' ' hujamkan pedang kilatmu ketubuhku ini' ujarnya dengan tubuh bergetar, dan batuk kecil karena terlalu banyak merah dibibirnya.

'Wahai sang bidadari bersayap kupu-kupu, serahkanlah bunga itu padaku' jawab siksatria elang itu kembali, 'tidak wahai sang ksatria elang, lebih baik kau hujamkan pedangmu ketubuhku, ku kan jaga amanah tuanku kepadaku, hingga darah terakhirku' ... Sang ksatria elang menangis, sambil mengangkat pedangnya, ia tak tau ingin berbuat apa, tapi ia akan laksanakan perintah tuanya untuk merebut dan menghancurkan bunga itu, pedang bergetar, kilat mulai menyambar, pedang itu diayunkan dengan keras .....

Ia adalah yang tercantik, ia adalah yang terkuat, ditangannya ada sebuah bunga yang hampir layu. Ia memejamkan mata menunggu saatnya datang sambil berbisik lirih, 'tuanku, aku tunaikan tugasku padamu, maafkanlah aku, yang tak mampu lagi melindungi bungamu' .. dimatanya mengalir bening deras, menyentuh pucuk bunga itu, yang kemudian membuat bunga itu menjadi semakin putih bersinar ...

Rasa sejuk perlahan merambat kepermukaan kulit sang bidadari bersayap kupu-kupu, ia tiba-tiba merasakan senyap menyergap ditelinganya, dan wangi terbakar berganti menjadi wangi dedaunan serta bunga. Ia seperti mengenal rasa yang menyentuh kulit halusnya itu, seperti ditempat yang sudah lama sekali ia tidak kunjungi.

 Singasana tuanku

'Wahai bidadariku, bangunlah engkau' ujar suara yang sangat ia kenal itu terdengar lembut ditelinga, itu suara tuanku.

 Sang bidadari bersayap kupu-kupu membuka matanya dengan perlahan, ia menemukan dirinya tergeletak disebuah ruangan termat besar, dan luar dengan pilar-pilah tinggi yang menyangga langit-langit yang hampir tidak terlihat atapnya, didepannya ada sebuah kursi, dan seseorang duduk disana, .. 

'Tuanku' ujar sang bidadari lirih, teramat lirih, sambil menahan dan mengigit bibirnya yang bergetar. 'Tuanku, maafkan aku' aku  tak mampu menjaga bungamu' ujarnya sambil menangis, wajahnya yang teramat cantik itu terlihat letih dan terlihat bersalah. Sementata tuannya, tersenyum bijak, dan melambaikan tangan untun memintanya bangun.

Perlahan sang bidadari seperti menemukan kekuatannya, ia mencoba berdiri, menyibakan rambut panjang halusnya, dan merapikan selendang putihnya yang sudah kecoklatan akibat pertempur di700 hari terakhir itu, sejenak ia kaget tapi kemudian maklum ketika melihat selendang dan busananya menjadi putih bersih kembali, lembut dan halus kembali seperti waktu sehabis ia mandi dan berganti pakaian baru dulu.

Ia tahu bahwa tuannya masih teramat menyayanginya, walau tuannya memandangnya dengan tanpa senyum, dan matanya tajam teduh memandangnya. Sesekali, mencoba menatap mata tuannya, tapi ia tak berani karena mata tuannya terlalu lembut untuk dipandang olehnya, ia hanya menundukan wajah cantiknya.

Tujuh kumtum bunga

 Ia melihat tuannya memegang sesuatu, yang perlahan diulurkan kepadanya, ia melihat tujuh buah kumtum mawar putih segar kesukaannya, dengan tangkai panjang menghijau tergenggam erat disana.

'Mari kesini' ujar tuannya lembut, yang membuat sang bidadari tergagap dan bersemu merah dipipi. Ia maju perlahan, 'ambil ini untukmu' ujar tuannya.

Sang bidadari mengulurkan tangganya dengan teramat anggun, selendang putih berkibar disekelilingnya, perlahan ia ambil bunga itu, yang tanpa sengaja tangannya menyentuh tangan tuannya, ia merasakan kekuatan masuk kedalam raganya, dan hatinya menjadi seperti kuat kembali, tujuh kumtum mawar putih didekatkan kedada, yang seketika bersatu dengannya, dan membuat ia kembali seperti sediakala, seperti sebelum pertempuran dimulai 700hari yang lalu.

'Tuanku, ujarnya didalam hati, 'aku tahu bahwa engkau masih sangat menyayangi bunga ini, sambil memandang bunga yang selama ini dijaganya, dan aku juga tahu bahwa engkau masih sangat menyayangiku. Bunga yang dijaganya, milik bidadari kesayangan tuanku, yang entah berada dimana ....

Bidadari bersayap kupu-kupu menyadari, bahwa tuannya telah kembali memberinya kekuatan untuk terus menjalankan tugasnya, tugas utama yang selama ini ia emban,walau ia tahu keluar diluar istana, ribuan ksatria bersayap elang telah menantinya, untuk kesekian kalinya, mungkin ia akan kembali bertarung, dan mudah-mudahan tuannya akan kembali membantunya disaat ia membutuhkannya. Satu bidadari bersayap kupu-kupu, akan kembali bertempur dengan ribuan ksatria bersayap elang itu, entah kapan akan berakhir.

Bekasi, somewhere and somehow

Comments (0) >> feed
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley

busy
 
< Prev   Next >

Free Joomla Templates By Joomlashack