Pagi ini dipadang nan luas PDF Print E-mail
Saturday, 01 March 2008

Pagi ini dipadang nan luas,

Sekali lagi sang elang melayang di kejauhan negri, pepohonan melambai menyapanya setiap kali ia berlari diatas mereka, warna-warna terlihat tetap segar dan seperti biasa, sang elang hanya bisa menatap, nanar, seperti biasa, entah sampai kapan.

Hingga tiba pada garis batas pepohonan, yang selanjutnya padang ilalang menghampar dengan bunga-bunda kekuningan menyembul disekitarnya, matahri tidak terlalu panas pagi ini, angin bertiup semilir lembut dan awan putih sedikit berarak menyelimuti langit membiru.

 

Parkit,

Sekelebat sang elang menangkap bayangan yang tengah hinggap diatas dahan berdaun hijau kekuningan, ia parkit, ia sahabatku. Sang elang melayang dengan lembut tapi tegar kearahnya, serta hinggap didahan kecil didepan parkit.

 

‘Assalamualaikum elang, apa kabarmu ?’ ‘parkit sahabatku, seperti yang engkau lihat disini’ ‘Apa kabar sang merpati kawanku ?’ …

 

Petir dan Guntur bersahutan di tengah padang, tetapi kali ini padang dirumah sikecil, rumah sikecil dengan ribuan mangkuk dihalaman belakangnya. Sang elang tertunduk, kemudian menatap jauh keufuk timur, ‘ Ia telah pergi kawanku, bersama sipenunggang kuda yang berpakaian gemerlap’ sambil tersenyum menahan sakit.

 

Parkit teramat terkejut, matanya membelalak tajam, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya, ‘wahai elang, apakah engkau tidak main-main dengan segala yang barusan engkau ucapkan ?’ .. ‘tidak parkit kawanku, itulah yang terjadi, itulah yang tertulis dilembar hari-hari hidupku’ .. ‘wahai elang, aku kenal denganmu kita bersahabat sejak lama, aku percaya denganmu, tetapi kenapa sang elang, kenapa ? setelah sedemikian bagusnya gedung yang engkau bangun bersama ?’

 

‘Inilah hidup parkit sahabatku, terkadang ada sekelebatan yang berubah begitu cepat, kita tidak hidup sendirian kawanku, jika kita tidak menyentuh, maka mungkin yang lain akan menyentuh, mungkin tanpa sengaja saling tersentuh’

 

Menunggu,

‘Wahai elang sahabatku, aku dengar bahwa engkau akan menunggunya, tahukah engkau elang, menunggu adalah tugas dari sang merpati, bukan tugas dari sang elang, burung diluar sana terkejut bahwa engkau akan menunggunya, mereka semua ingin menjadi sang merpati, karena mereka melihat begitu indahnya cahaya berpendar milikmu yang engkau berikan kepadanya, …. Yang kemudian diterlantarkan begitu saja …, mereka ingin memiliki cahaya berpendarmu wahai kawanku elang’.

 

Sang elang hanya termanggu, tersirat didalam hatinya, kata-kata parkit sahabatnya … menunggu adalah tugas sang merpati, dan bukan tugas sang elang,

 

Parkit tersenyum getir sambil menatap mata sang elang yang beriak-riak, ‘Wahai elang sahabatku, jika memang kasih sayang berdua benar-benar putih dan bercahaya, sang merpati akan menunggu dan menyambutmu, dan bersatunya sang hati kecil dengan belahanya, entah dimana dan kapan’

 

 ‘Tapi satu hal wahai kawanku elang, apakah engkau tetap yakin akan menerimanya ? sedangkan ia telah ternoda oleh sentuhan sipenunggang kuda nan gemerlap ?’

 

Sang elang hanya termanggu, tersirat didalam hatinya, kata-kata parkit sahabatnya … menunggu adalah tugas sang merpati, dan bukan tugas sang elang, sayapnya terkepak lebar, dan tanpa bersuara melayang cepat melintasi padang nan luas ini, diiringi mata burung-burung lainnya …….

 

....

Comments (0) >> feed
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley

busy
 
< Prev   Next >

Free Joomla Templates By Joomlashack