| Sebuah badai bergemuruh |
|
|
|
| Tuesday, 19 February 2008 | |
|
Ada suara gemuruh yang masih terdengar hingga hari ke 520 ini, gemuruh disertailledakan-ledakan terdengar dikejauhan, juga disertai deru angin yang berputar, datang pergi dan saling bersahutan. Sering kali aku mencoba berkeliling sejauh kakiku melangkah, untuk mencari sumber suara gemuruh tersebut, tetapi hingga hari ini, tetap ku tak mampu menemukannya, belum mampu menemukan sumbernya. Terkadang aku coba membiarkan saja, dan bersikap masa bodoh dengan suara-suara tersebut, tetapi dihari ini, dipagi ini, aku kembali mendengar suara-suara ditengah gemuruh tersebut, seperti suara seseorang atau sekelompok orang saling berteriak memanggil atau berbicara dengan suara agak tinggi, mungkin dimaksudkan agar komunikasi antara mereka bisa terdengar satu sarna lainnya, ditengah suara gemuruh itu.
Pencarian: sekali lagi Sekali lagi aku berdiri, bergerak dan berusaha mencari sumber suara itu, rasa keingin tahuan yang terus menyeruak dari hari kehari. Kucoba berjalan menuju tanah lapang diujung tempatku tinggal, diarah matahari .yang sedang menatapku, hmmm ...tidak ada apa-apa disana, hanya suara semilir angin sejuk dan goyangan batang bambu, juga gemericik air dari sungai kecil disana, suara grmuruh masih terdengar, tetapi sepertinya tidak dari tempat ini.
Kemudian kucoba melangkahkan kakiku menuju kepinggir persawahan diujung selatan, damai sekali disini, suara bebek mencari dan berebut makan ramai sekali, sesekali diiringi teriakan pemiliknya, memberi perintah kepada mereka untuk tetap berada didalam kelompoknya. Suara para wanita penanam padijuga terdengar, saling bersahutan bersenda gurau, berbicara tentang keseharian mereka, gambit tangan-tangan mereka menari diatas lumpur, menanam bibit padi, dalam satu barisan yan sungguh baik dipandang. Gemuruh masih terdengan, tetapi sepertinya tidak berasal dari tempat ini.
Duhh, kemana lagi ya, hmmm ...aku melangkah kearah utara, hingga mencapai bibir pantai pasir putih, disana terlihat senyum para nelayan, mereka baru saja kembali dari mencari ikan, puluhan drum berisi ikan tersusun rapi berbanjar, disela-selanya berlari anak-anak kecil sambil memegang ikan kecil, kecil seukuran tangan mereka. Tidak ada suara gemuruh yang menonjol disini, yang ada hanya suara deburan ombak, dan angin pantai yang membuatku agak mengantuk ...hi hi hi, sebaiknya aku cepat pergi dari sini, hari sudah mulai sore, perjalan'an jauh membuatku lupa waktu, badan terasa agak letih, hingga angin pantai membuatku ingin merebahkan tubuhini.
Gemuruh: Ada disini Didepan ada sedikit tempat untuk duduk sambil melepaskan dahaga, dan memakan sekerat roti bekal yang kubawa. Aku akan beristirahat sejenak, gemuruh masih terdengar ...
Uhhh panas sekali hawa udara, ..ups bukan hawa udaranya yang panas, tetapi terasa panas karena aku baru saja melangkah hampir seharian, sehingga badanku terasa gerah dan panas, hmmm sebaiknya aku buka satu atau dua buah kancing baju sebelah atasku, agar udara bias meredam sedikit rasa panas yang terasa. Satu hmmm sepertinya gemuruh sedikit lebih keras dua ...dub semakin keras
Tiba-tiba ada burung melintas cepat didekatku, tanpa sengaja tanganku menutup baju yang sudah terbuka dua kacing tadi, hmmmm gemuruh mengecil ...kemudian aku buka lagi ...gemuruh membesar ...kututup lagi ...kembali gemuruh mengecil ... hmmm ada sesuatukah disini ? kulihat sekeliling, tidak ada orang, kemudian kepergi .kebalik rumpun bamboo dan kubuka bajuku sambil berkonsentrasi tentang besar dan kecil suara gemuruh itu. ternyata suara gemuruh itu membesar, dan semakin jelas, tidak heran jika aku mendengar suara gemuruh itu jauh besar sewaktu aku membersihkan diriku dikamar mandi, atau ketika aku sedang membuka baju sehabis berkebun. Dan tidak heran jika semua orang ternyata tidak mendengar suara gemuruh itu ketika kutanyakan apakh mereka mendengar apa yang aku dengar. Sekali lagi: terpenuhi
Gemuruh itu berasal daTi tengah dadaku, kucoba menjulurkan kepala untuk mendekat, suara gemuruh semakin dekat, duhh sekarang bukan lagi suara, tetapi ada bentuk visual yang tertangkap dimata ini, terkadang ada sinar putih berkelebat menyambar, dan seperti ada embun disisi luar dadaku, seperti kain terkena air, basah lembut, seperti ada sedikit air menetes didinding luar dinding hatiku.
Kuulurkan kedua tanganku untuk menyentuhnya, duh ...basah dan dingin, dan ... kembali terdengar suara-suara tengah berbicara, kali ini semakin jelas terdengar "" hmm ada sebuah pintu kecil disana, kemendekat dan membukanya ...duhhh kulangsung disambut dengan siraman air begitu pintu kecil itu terbuka, ...lebih tepat disebut sebagai jendela dan bukan pintuk kecil. Keingintahuanku membuatku berusaha kemabli menjulurkan kepala, untuk melihat sesuatu yang ada dibalik jendela itu.
Gemuruh itu berasal dari tengah dadaku, kucoba menjulurkan kepala untuk mendekat, suara gemuruh semakin dekat, duhh sekarang bukan lagi suara, tetapi ada bentuk visual yang tertangkap dimata ini, terkadang ada sinar putih berkelebat menyambar, dan seperti ada embun disisi luar dadaku, seperti kain terkena air, basah lembut, seperti ada sedikit air menetes didinding luar dinding hatiku.
Pandangan abu-abu menhiasi mataku, seperti awan gelap mengantung diangkasa, yang diiringi dengan hujan, hmmmm ada sesuatu disana ...dan akupun membelalakan illata ini, karena kaget bercampur bingung ...ada sesuatu disana ... sebuah kapal, sebuah bahtera, dengan layer compang camping, dan orang-orang seperti berlari-lari kesana dan kemari, mereke bekerja keras, mereka sedang melakukan sesuatu. Sepertinya mereka sedang berusaha untuk mengendalikan bahtera mereka. Bahtera didalam suara gemuruh ini, bahtera didalam badai yang sedang bergemuruh, beserta kilatan petir dan suara ledaka-ledakan dibelakannya.
Gemuruh itu berasal dari tengah dadaku, kucoba menjulurkan kepala untuk f mendekat, suara gemuruh semakin dekat, duhh sekarang bukan lagi suara, tetapi ada bentuk visual yang tertangkap dimata ini, terkadang ada sinar putih berkelebat menyambar, dan seperti ada embun disisi luar dadaku, seperti kain terkena air, basah lembut, seperti ada sedikit air menetes didinding luar hatiku.
Dinding jendela ini adalah pembatas atas dari mereka, aku berdiri memandang mereka yang sedang berjuang ditengah badai, diatas lautan yang teramat luas, mungkin tanpa batas, entah sudah berapa lama mereka berjuang, entah sudah berapa lama mereka disana, entah sudah berapa lama wajah mereka semakin dan semakin letih.
Suara mereka: berbicara Wahai nahkodaku, sampai kapankah badai ini akan berlangsung ? sudah letih rasanya kita bekerja siang malam, teramat berat tugas-tugas rekan kita dalam mengendalikan bahtera ini, terlebih dirimu wahai nahkoda, engkau hampir tidak pernah tidur. Wajahmu menyiratkan keletihan yang teramat sangat.
Wahai saudaraku, entah kapan badai ini akan berhenti, sudah hamper lebih dari lima ratus dua puluh hari badai ini berlangsung, tetapi belumjuga menunjukan tanda- tanda akan berhenti, terkadang bahkan semakin men'ganas. Aku setuju saudaraku, rekan-rekan kita bekerja siang malam tanpa henti untuk mempertahankan posisi bahtena kita, agar tetap berada diatas air, sementara pelabuhan tujuan belum juga terlihat.
Wahai nahkodaku, sampai kapankah sang elang penguasa lautan ini akan menghentikan badai bergemuruh ini ? bukankah sudah hampir sekian lama badai ini berlangsung, kita semua ingin ketenangan, rindu melihat langit nan cerah, rindu melihat kelip bintang dimalam hari, dan rindu memejamkan mata dengan tanpa . khawatir.
Wahai nahkodaku, bukankah sang elang sudah berhasil menyelesaikan ujianNYA? yang kemudian yang diATAS mencurahkankan begitu banyak nikmat dan anugrah kepadanya? kehidupan yang bahagia, elang-elang kecil terbang riang disekeliling, bidadari putih disampingnya yang semakin cantik dan lembut, selalu memberikan senyum termanis kepadanya ?
Wahai nahkodaku, bukankah pula telah dikaruanikan olehNYA pabon temp at tinggal yang sejuk kepadanya ? ditempat kabut tip is yang turun disore hari hingga pagi ? .ditempat ketenangan yang yang membuat iri orang lain? dan pepohonan sederhana yang membuat semua yang lewat menoleh kedalamnya ?
Wahai saudaraku, entahlah ...tidak ada yang sempurna, disatu sisi ada rasa yang teramat besar, mungkin terbesar, yang tak mungkin bias diberikan oleh orang lain, tetapi disatu sisi ada pengingkaran yang membuat harus menghancurkannya. Tidak ada yang sempurna didunia ini saudaraku. Entahlah, terbuat dari apa hati seseorang yang masih tersenyum setelah deraan dan khianat.
Wahai nahkodaku, bukankahjuga semakin tinggi ranting pijakan sang elang disana? yang membuat ia semakin bisa memandangjauh kesekeliling? tiba-tiba pembicaraan itu terhenti, mereka berdua seperti menyadari sesuatu, mereka berdua seperti menemukan sesuatu, mereka berdua menoleh kearahku Assalamualikum, wahai sang elang, aku nahkoda dari bahtera ini, maafKan kami sang elang, maafKan percakapan kami, maar kami yang tidak menyadari kehadiranmu. Mereka tersenyum kearahku, mereka berdua tersenyum kearahku, sebuah senyum ditengah badai bergemuruh.
Aku pulang: selesai .Wahai saudaraku, entahlah .., tidak ada yang sempurna, disatu sisi ada rasa yang teramat besar, mungkin terbesar, yang tak mung kin bias diberikan oleh orang lain, tetapi disatu sisi ada pengingkaran yang membuat harus menghancurkannya. Tidak ada yang sempurna didunia ini saudaraku. Entahlah, terbuat dari apa hati seseorang yang masih tersenyum setelah deraan dan khianat.
Tiba-tiba kilat menyambar didekatku, ku meloncat karena kaget, seraya terhuyung kebelakang, tersandung bambu muda dan terduduk. aku masih ditempat yang sarna, ditempat aku beristirahat, tempatku melepas lelah sehabis berjalan jauh,. tempatku melepas satu dua kancing bagian atas bajuku.
Gemuruh itu berasal dari tengah dadaku, kucoba menjulurkan kepala untuk mendekat, suara gemuruh semakin dekat, duhh sekarang bukan lagi suara, tetapi ada bentuk visual yang tertangkap dimata ini, terkadang ada sinar putih berkelebat menyambar, dan seperti ada embun disisi luar dadaku, seperti kain terkena air, basah lembut, seperti ada sedikit air menetes didinding luar dinding hatiku.
Kuberdiri, merapikan baju, mengumpulkan semua miliku, dan kembali melanjutkan .perjalanan, ketempat dimana kabut turun diwaktu sore hingga pagi, ketempat dim ana kesejukan selalu terasa, ditempat dimana nyanyian bidadari terlantun, ketempat dimana elang-elang riang berkepak, ketempat dimana sebuah istana bersemayam aku akan belajar untuk terbiasa mendengar gemuruh badai disetiap detiknya ...
Subhanallah walhamdulillah walla illahailallahu ALLAHUAKBAR, Lahaullawallakuwwata illabillahil aliyuladzim ...
Tentang sebuah badai bergemuruh Jakarta,15.03.2007 |
|
| Last Updated ( Tuesday, 19 February 2008 ) |
| < Prev | Next > |
|---|


