| Sebuah cerita penghantar tidur, |
|
|
|
| Saturday, 01 March 2008 | |
|
Sebuah cerita penghantar tidur, Sang elang kembali melayang, masih dengan tetesan yang sama, masih dengan keletihan yang sama, masih dengan luka yang sama, mmmm … maaf sepertinya aku salah, ia tidak lagi dengan luka yang sama, karena luka itu semakin membesar dengan bercak warna kekuningan tersebar tidak merata di atas kulit lukanya. Mata sang elang semakin membiru, semakin terlihat dalam, semakin terlukis betapa semakin sarat berat direlung matanya. Matanya adalah sebuah jendela, yang darinya kita semua bisa melihat keadaan didalam kamar hatinya, yang semakin temaram dan teriris.
Api diujung sayap, Semburat warna jingga memancar dari ujung sayapnya, berkobar perlahan digaris-garis bulu kerasnya. Kencangnya angina bertiup tak sanggup memadamkannya, tetapi sang elang seperti tak merasakannya, aku bergegas menyusulnya, dengan segenap daya upaya mencoba menyamakan kecepatan terbangnya,.sulit sekali rasanya.
Wahai elang kawanku ….. teriaku lirih, karena tengelam dalam deru angina dan debu, yang berterbangan karena kibasan sayapnya, … wahai elang kawanku … kumohon berhentilah sejenak kawan, …. Sang elang terus melayang, seperti tak pernah mendengar seruanku.
Kobaran itu semakin membesar, titik api mulai bermunculan disetiap jengkal bulu-bulu kerasnya, tetapi sang elang elang masih terus melayang dan melayang, tanpa menghiraukan apa yang terjadi pada dirinya,
Wahai sang elang …. Ada apa denganmu kawanku, tergesa aku menyamakan kecepatanya, … sang elang melebarkan sayapnya, sayap hitam putihnya, yang sekarang diselimuti api yang semakin membesar, … terlihat jelas, api membesar dan membakar sayapnya …
Wahai sang elang, apakah engkau mendengar suaraku …. Wahai sang elang, wahai elang kawanku …. Parau teriaku, dan semakin parau teriaku menyuarakan kekhawatiranku, …. Sang elang menolehkan kepalanya kepadaku, darimatanya mengalir sesuatu berwarna merah, bukan lagi bening seperti biasanya ….. tanpa berkata-kata, tapi diparuhnya tersungging sebuah senyuman, senyuman tergetir yang pernah aku lihat,
Semua adalah yang terbaik, Dari kejauhan burung-burung menatap dilangit, seperti sebuah pesawat yang tertembak musuh, terbakar dan asap hitam, yang membelah langit biru, asap hitam semakin mendekati bumi, semakin, semakin mendekati bumi, …..
Suara berdebum terdengar hingga dikejauhan, semua burung-burung berterbangan, mereka semua panik, sambil beramai-ramai mendekati sumber suara tersebut, sumber suara yang dihiasi api berkobar,
Mereka mengelilingi tubuh terbakar sang elang, tubuh menghitam dengan warna merah muda dan bercak-bercak hangus kehitaman, matanya tertutup dengan lelehan warna merah mengalir, juga dari lukanya yang terinfeksi, juga dari hari membirunya,
Burung-burung mengalirkan airmatanya, mengumpulkan diatas sayap-sayap mereka, lalu kemudian menumpahkannya kekobaran api diatas tubuh sang elang, tidak banyak membantu memang tetapi setidaknya bisa sedikit meredam rasa panas ditubuhnya.
Sampai disinikah ? Sang elang sudah tidak ada, ia melayang pergi tanpa jasadnya, hanya kesejukan yang melewati udara disekitarnya, seperti halnya sebuah cerita penghantar tidur, tentang kemurnian sebuah kasih sayang yang berakhir dengan bahagia,
Seperti disebuah cerita penghantar tidur, hanya dalam sebuah cerita penghantar tidur
Jakarta, 25 July 2006 Kematian sang elang
|
| < Prev | Next > |
|---|


