| Untouchable flower |
|
|
|
| Friday, 15 February 2008 | |
|
..... Kau memelukku sebelum membunuhku ... Tersenyum melihatku, melamun melihatmu ... Kau menungguku, menungguku terjatuh ... ....
Celah rindu: tetes demi tetes, Sekali lagi dipagi ini, dengan berjalan diatas kaki yang penat ini, kulewat jalan setapak itu. Melihat sekali lagi dikebun berpagar tinggi rapat diujung jana sana, pagar beton tebal yang menyurutkan hati dan setiap langkah. Pagar tinggi yang tak terjangkau ujungnya olehku, pagar tebal yang tak terjangkau tepinya olehku. Ada sebuah celah kecil sempit disana, yang membuatku tetap melewati jalan setapak itu. Disebuah sudut kecil nan sepi, lembab dan menyesakkan, didekat rerumputan beralang tinggi dan daun bambu yang menusuk kulitku. Mawar putih itu: Jauh berubah Setibaku diujung pagar itu, kubuka bajuku, kumasukan kedalam tas kusamku dan melipat celana panjangku hingga lutut. Sesaat kucoba menerawang kesekelilingku dengan perlahan, untuk memastikan tak ada orang yang memperhatikanku. Dengan cepat kusibakkan rerumputan alang-alang tajam itu, berjalan jongkok dibawah rumpun bambu yang menusuk kulit. Satu dua alang-alang mengores kulitku dan meninggalkan bekas memerah dan rasa perih, satu dua daun bambu menusuk pipiku dan meninggalkan luka sayat dan rasa nyeri. Tempat itu berada tidak jauh lagi, jalan semakin becek dan mulai mengotori celana panjangku, dan berjalan dengan posisi jongkok ini membuat lututku terasa mulai nyeri dan pegal. Satu dua nafas terengah dan memburu dari hidung dan mulutku, peluh mulai mengalir walau tempat ini mulai lembab dan dingin. Tempat itu berada tidak jauh lagi, jalan semakin becek dan mulai mengotori celana panjangku, dan berjalan dengan posisi jongkok ini membuat lututku terasa sakit tak terperi. ....... Apa yang kau lakukan dibelakangku ? Apa yang kau tunjukan dihadapanku ? Aku menunggumu, menunggumu, Menunggumu ... Mati didepanku, didepanku, didepanku ... ........ Dengan terengah, sampai juga akhirnya disudut itu, sudut dengan celah yang teramat kecil, tetapi memungkinkanku melihat kedalam kebun disana, melihat sebatang mawar putih, yang dahulu pernah ada didekatku dan dalam mimpiku. Yang hingga kini ada setiap airmataku, aliran darahku, disetiap gerakan mataku, desah nafasku dan pencarianku. Warnanya tak lagi seperti namanya, sedikit kelabu dan ada rona coklat disana. Terlihat tidak lagi cerah dan segar seperti dulu, ada letih diujung-ujung lembar daunnya, walau ujung durinya semakin mengkilap terasah, yang tentuna teramat tajam jika menusuk hati dan kulitku, seperti biasanya. Batangnya terlihat lebih berwarnya coklat dan bersisik disana sini, sepertinya ada tambahan pemanis yang sebenarnya malah menjadi terlihat lebih kurang baik, setidaknya menurutku. Dan guratan mulai tampak .... ...... Dan mungkin bila nanti, kita kan bertemu lagi satu pinta ku jangan kau coba tanyakan kembali rasa yang kutinggal mati, seperti hari kemarin, saat semua disini. ...... Ada rasa nyeri yang tak terperi disetiap sudut hatiku, setiap kali kumenatap bunga itu melalui celah itu, mungkin rasaku takkan berlalu, mungkin hati ini sudah tak berbentuk lagi, rasa ini tak akan terobati, tetapi mati tak akan mengobati, Kumenatap lagit yang tenang, dan tak akan menangis dimalam. Sang mawar sepertinya tersenyum, tapi kutak melihat senyumnya, sang mawar sepertinya melambaikan tangan, tapi tak kulihat lambaian tangannya, sang mawar putih sepertinya menangis tapi tak kulihat airmatanya, sang mawar putih sepertinya sedang bersedih tetapi kulihat senyum riang diwajahnya. Semua tak dapat kumengerti, sepertinya kutak mempercayai lagi mataku, sepertinya kutak mempercayai lagi telingaku, sepertinya kutak lagi mempercayai dan kumengerti. ...... Mencari sesuatu yang telah mati, Mencari sesuatu yang telah pergi, Mencari sesuatu yang tak akan kembali, Mencari hati yang kubenci, ...... Kembali: meneruskan perjalananku Lelah hati ini, basah memerah masih terlihat, walau terkadang berhenti, entah kapan akan berhenti, entah kapan akan terobati, mungkin seiring dengan menutupnya mataku kelak, hingga berhentinya waktu. Tapi bagaimana kalau nyeri ini terus terasa walau setelah berhentinya waktu ? Kembali berpakaian, kembali melurukan lipatan celana panjangku, walau tak akan bersih kotoran yang menempel, butuh waktu lama menyembukan luka dipipi ini, luka dikulit ini. Kuteruskan kembali perjalananku dipagi ini, besok akan kembali kuteruskan pula .... ...... Mencari sesuatu yang telah mati, Mencari sesuatu yang telah pergi, Mencari sesuatu yang tak akan kembali, Mencari hati yang kubenci, Mencari hati yang kucintai ......
Budi Dhaju Parmadi |
|
| Last Updated ( Monday, 14 July 2008 ) |
| < Prev |
|---|



