Siapa takut menikah ? PDF Print E-mail
Wednesday, 20 February 2008

Bismillahir rahmanir rahim

Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida'ah
al-Hilali (ra) menemui Rasulullah (saw) dan mengatakan bahwa

ia belum menikah, beliau bertanya, "Apakah engkau sehat dan mampu?"

Ukaf menjawab, "Ya,  alhamdulillah."

 

Rasulullah saw bersabda, "Kalau begitu, engkau termasuk
teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta
Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau (bila) engkau

termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami

lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang

paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang.

 

Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang

yang membujang." Kemudian Rasulullah (saw) menikahkannya

dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah)

Anas bin Malik (ra) berkata, telah bersabda Rasulullah
(saw),
"Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh
dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah

dalam memelihara yang separuhnya lagi." (HR Thabrani

dan Hakim)

Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang
bertanya kepada istri2 Nabi (saw) tentang peribadatan

beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing2 ingin

meningkatkan peribadatan mereka.

 

Salah seorang berkata,
"Adapun saya, akan puasa sepanjang masa tanpa putus."

 Yang lain berkata,

"Adapun saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan
kawin selamanya."

 

Ketika hal itu didengar oleh Nabi (saw), beliau keluar
seraya bersabda,
"Benarkah kalian telah berkata begini dan begitu?

Demi Allah, sesungguhnya akulah yang paling takut dan

taqwa diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan

aku berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku

juga mengawini perempuan. Maka barangsiapa yang
tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk

golonganku." (HR Bukhari dan Muslim)

Ibnu Mas'ud (ra) pernah berkata, "Jika umurku tinggal
sepuluh hari lagi, sungguh aku lebih suka menikah

daripada aku harusmenemui Allah swt sebagai seorang

bujangan."(Ihya Ulumuddin hal. 20)

Dalam suatu kesempatan Imam Malik (rah.a) pernah
berkata, "Sekiranya saya akan mati beberapa saat lagi,

sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan

segera menikah."

 

Demikian rasa takut pengarang kitab
al-Muwatha' ini kepada Allah kalau ia meninggal dalam
keadaan membujang.
(30 Pertunjuk Pernikahan dalam Islam, Drs. M. Thalib)

Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah?
Pengalaman mengajarkan bahwa ternyata kita dapat

menjadi semacam tempat penyalur rejeki (dari Allah)

bagi orang2 yang lemah diantarakita (istri dan
anak2, bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu
dapat terjadi manakala


kita telah buat keputusan untuk mengambil tanggung
jawab atas mereka. Se-akan2 Allah mengatakan bahwa

Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat

baik dan tangung jawab kita.

Allah (swt) menyukai orang2 yang dapat 'mewakili'-Nya
dalam hal pembagian rejeki. Salah satu kesukaan-Nya

adalah bahwa Dia akan berikan lebih banyak lagi rejeki

kepada wakil2-Nya agar hal itu dapat bermanfaat
bagi hamba2-Nya yang ada dibawah tanggung-jawab
mereka.

 

Dan Allah (yang menyenangi orang2 yang berbuat baik)

menyukai mereka yang mengambil tanggung-jawab atas

urusan2 yang disukai-Nya.

Percayalah bahwa ketika kita buat keputusan untuk
menikah, itu berarti bahwa kita sedang menyenangkan

Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan setan

stress dan uring2-an. Pada gilirannya nanti, Allah akan
memperlihatkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua

makhluk bergantung dan mendapatkan rejekinya.

 

Sementara itu, setan bekerja lebih keras lagi
untuk menanamkan rasa takut terhadap segala resiko
(yang mungkin timbul) dari pernikahan, sekaligus dia

berusaha menampakkan kelebihan2 hidup
sendiri (membujang).

Bila kita menikah, padahal saat ini kita (misalnya)
seperti 'tulang punggung' bagi keluarga orangtua,

maka Allah yang maha pengasih dan maha penyayang

tidak akan menambah berat beban yang harus kita pikul,

bahkan Dia akan meringankannya melalui pernikahan.

Nampaknya hal ini tidak bisa masuk akal, akan tetapi

demikianlah ketetapan Allah dalam memelihara
ciptaan-Nya. Akal kita memang sangat terbatas, bahkan
sekedar untuk memahami ciptaan-Nya saja hampir2 kita

tidak mampu.

Bila kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun
punya niatan untuk meninggalkan bakti kepada orangtua

dan hubungan baik dengan sanak-saudara, niscaya Allah

akan memberi jalan keluar bagi masalah2 yang mungkin

timbul terhadap mereka. Segala sesuatu datang dari Allah
dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Keadaan seberat
apapun, pasti tidak akan menyusahkan manusia, asal mau

berusaha.

 

Kemuliaan seseorang seukuran dengan penderitaan yang
menimpanya, diketahui pula bagiannya sesuai dengan
kesabarannya, barang siapa yang sedikit memiliki
kesabaran, maka akan sedikit yang ia dapatkan.



Comments (0) >> feed
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley

busy
Last Updated ( Wednesday, 20 February 2008 )
 
< Prev

Free Joomla Templates By Joomlashack