Sudah waktunya aku datang Kembali aku menapaki jalan ini, sebuah jalan setapak menuju tempat seseorang, dibalik rumpun awan berwarna putih yang menggulung dan menjulang. Disebuah daerah yang dibatasi jajaran bambu nan menghijau ditepi sungai kecil. Ditempat embun dan kabut masih membasahi bumi dan lingkungan.
Rambut ini melambai-lambai ditiup angin semilir dan sejuk. Langkah ini teramat ringan dan melayang, diatas jalan setapak yang seputih kapas dan selembut rambut bayi, kaki ini tidak beralas, tidak perlu, sebab kelembutan jalan ini sungguh menentramkan hati. Di seberang jembatan bambu Aku melayang didekat sebuah jembatan bambu, diseberangnya terlihat seseorang tengah menundukan kepala, kedua belah tangannya menutupi wajahnya. Tangan itu terlihat membiru, kaki itu terlihat membiru, tubuh tegap tapi kusam itu hanya tertutupi baju koko yang terkoyak-koyak, juga berwarna biru, entah bagaimana dengan wajahnya. Lelaki itu mengerang lirih, sambil tetap menutupi wajahnya, ia sama sekali tidak menjawab teriak tanyaku, tentang kenapa, mengapa dan ada apa. Sejenak ku terdiam, sambil tubuh ini terus melayang, melayang mendekat, kearah lelaki itu, melayang didekat sebuah jembatan bambu, diseberangnya terlihat seseorang tengah menundukan kepala, kedua belah tangannya menutupi wajahnya. Lelaki itu limbung, tubuhnya bergetar hebat, eranganya semakin kuat walau tetap lirih, ….. ia terjatuh, tubuhnya melingkar seperti kedinginan, dengkulnya bertemu dengan dadanya, kedua belah tangannya menutupi wajahnya. Buah dan keranjang Tak sabar aku melihat dan menunggu sebuah jawab, kukuatkan tekadku, aku meluncur dengan perlahan, dan perlahan, dan perlahan, kerelung jiwanya, disebuah tempat berwarna merah, yang berdegup dan sebuah tempat yang berwarna pelangi. Ia menunjuk dengan dengan sebuah tanda kesuatu arah, aku mengikuti lambaiannya, terlihat dikejauhan dua orang tengah menunggang sebuah kuda, kuda yang teramat gagah, pakaian merak terlihat sangat mewah dan mahal, kemilau cahaya berpantulan dari pernik dan perhiasan mereka. Ada duah buah keranjang ditangan seseorang dibelakang sang penunggang kuda, dua buah keranjang, satu keranjang kosong dan satu keranjang berisi cahaya yang berpendar yang wanginya terncium sampai disini, cahaya yang sama yang aku temukan pada tempat ini, disebuah tempat berwarna merah, yang berdegup dan sebuah tempat yang berwarna pelangi. Seperti mengerti dan membaca apa yang tersirat dihatiku, tempat ini membisikan lirih dihatiku, bahwa cahaya berpendar adalah buah yang yang bernama kasih sayang sejati, yang diberikan dan akan terus bersamanya selama-lamanya, hanya untuknya. Sedangkan keranjang yang kosong tadi berisi buah berwarna hijau empedu. Buah yang telah diberikan olehnya kepadanya sebelum ia pergi bersamanya. Bersama sipenunggang kuda yang memiliki segalanya, jauh diatas segalanya dari seseorang yang menundukan kepala, dengan kedua belah tangannya menutupi wajahnya. Tangan itu terlihat membiru, kaki itu terlihat membiru, tubuh tegap tapi kusam itu hanya tertutupi baju koko yang terkoyak-koyak, juga berwarna biru, entah bagaimana dengan wajahnya, yang kemudian bergetar dan limbung. Selebar dan sedalam Lelaki itu adalah sahabatku, aku pergi meninggalkannya sekian tahun yang lalu, seorang lelaki yang memiliki tempat berdegup selebar dan sedalam lautan, dengan mata dingin dan senyum misterius, …. Aku pergi sekian tahun yang lalu karena aku melihat sepertinya ia tidak membutuhkan aku lagi. Aku adalah angin, sudah waktunya aku berkemas untuk kembali bersamanya, bercerita sepanjang hari seperti dahulu, disepanjang lereng pendakian, puncak-puncak tawa dan kesedihan, membantunya mengangkat sayapnya sewaktu ia terbang. Lelaki itu mengerakan bibirnya perlahan, perlahan tetapi terdengar sangat memekakkan telinga didalam sini, …. Sayangku … teramat perih rasa buah ini, walau begitu, aku akan tetap menunggunya, jika kau tersesat, angkat tinggi-tinggi buah dariku diatas kepalamu, buah itu akan bergerak menuntunmu kearahku, menuju kebelahan milikku, aku akan sambut engkau dengan segenap jiwaku ….. apa dan bagaimanapun engkau nanti … ditempat yang sama … Aku sibakan tanganku agar kata-katanya terbang dan mendarat didirinya, … kembali airmata ini meleleh membasahi pipi, dan melebar membentuk secungkup danau, sudah waktunya aku datang, menemaninya hingga malam menjelang dan menjemputnya keperaduan. - Windy -
Permadi
| Comments () >> |
 |
|